HARGA BAYANGAN
10:42:00 PM
2.1
Definisi
Shadow Price (Harga Bayangan)
Analisa
keuangan dalam perhitungan profitabilitas keuangan dengan menggunakan harga pasar
yaitu harga yang berlaku dipasaran, sedangkan analisa ekonomi untuk menghitung
profitabilitas ekonomi menggunakan harga ekonomi yaitu harga seandainya tidak
terdapat distorsi pada pasar. harga ekonomi disebut juga sebagai harga bayangan
yang juga menggunakan opportunity cost yang dihitung terhadap setiap input dan
output dari bisnis atau proyek. Harga bayangan adalah harga pada pasar
persaingan sempurna yang mewakili biaya imbangan sosial yang sesungguhnya.
Gittingeret al., (1993) mendefinisikan harga sosial (social
price) atau harga bayangan (Shadow Price) sebagai harga yang akan
terjadi dalam suatu perekonomian jika pasar bersaing sempurna dan seimbang.
Pada kenyataannya kondisi ini sulit dicapai karena sering terjadi gangguan
akibat kebijakan pemerintah, seperti; subsidi, pajak, dan penentuan harga upah.
Untuk
komoditas yang tradable, input dan output dari usaha dalam kelompok
ekspor didekati dengan harga FOB (Freeon Board) yaitu harga barang di
pelabuhan ekspor. Sedangkan harga bayangan dalam kelompok yang diimpor didekati
dengan harga CIF (Cost Insurance Freight), yaitu harga barang pelabuhan
impor.
Pudjo Sumarto (1991) menyatakan bahwa harga bayangan (shadow
price) merupakan suatu harga yang nilainya tidak sama dengan harga pasar,
tetapi harga barang tersebut dianggap mencerminkan silai sosial sesungguhnya
dari suatu barang dan jasa.
Harga bayangan digunakan untuk menyesuaikan terhadap harga pasar
dari beberapa faktor produksi atau hasil produksi.
2.2 Metode Penentuan Shadow Price (Harga Bayangan)
Analisis
keunggulan komparatif dalam konsep daya saing menggunakan harga bayangan,
sedangkan analisis keunggulan kompetitif menggunakan harga pasar. Dalam
Gittinger (1986), harga bayangan adalah suatu harga yang lebih dekat menggambarkan
biaya imbangan terhadap masyarakat. Langkah – langkah yang dikemukakan untuk
mengubah atau menyesuaikan harga pasar (harga finansial) menjadi harga bayangan
(nilai ekonomi) yaitu :
1. Harga
input-output diperdagangkan
Harga
sosial atau harga bayangan (Shadow Price) yang digunkan untuk
input-output diperdagangkan adalah harga internasional (border price),
yang dinyatakan dalam satuan moneter setempat pada kurs pasar. Border price
yang relevan untuk input dan output impor adalah harga impor (CIF) lepas
dari pelabuhan (dikurangi segala jenis bea masuk, pajak impor dan lain
sebagainya). Untuk input dan output ekspor, border price yang relevan
digunakan adalah harga FOB pada titik masuk pelabuhan ekspor (jadi tidak
termasuk biaya-biaya untuk jasa pelabuhan). Menurut Gray et al., (1995),
bahwa harga sosial/bayangan input berupa sarana produksi dan peralatan
ditentukan berdasarkan border price atau harga perbatasan. Pada
prinsipnya dalam menentukan harga sosial/ bayangan ini digunakan harga
perbatasan untuk barang tradable, sedangkan untuk barang nontradable digunakan
harga domestik. Harga sosial/bayangan output adalah harga yang akan terjadi
dalam suatu perekonomian bila pasar berada dalam keadaan persaingan sempurna
dan dalam kondisi kesimbangan, namun kondisi ini sulit dicapai (Gittinger,
1986).
2. Harga
input tidak diperdagangkan
Harga
bayangan input tidak diperdagangkan adalah berupa consumer willingness to
pay atau kesediaan konsumen untuk membayar, dalam hal ini adalah
kesediaan pihak berkepentingan terkait untuk membayar.
3. Biaya
tenaga kerja
Pasar
tenaga kerja di Indonesia, terutama tenaga kerja tidak terlatih, umumnya
tingkat upah yang diberikan melebihi biaya imbangannya, karena terkait campur
tangan pemerintah dalam ketenagakerjaan. Upah pasar yang berlaku tidak
mencerminkan nilai produktivitas marginalnya, sehingga tidak sekaligus dapat
digunakan sebagai harga sosial tenaga kerja, namun perlu penyesuaian terlebih
dahulu. Harga sosial tenaga kerja dapat dipertimbangkan, yaitu harga tenaga
kerja tiap tahun pada tingkat harga yang ditentukan dengan cara mengalikan upah
yang diterima pada saat kelangkaan tenaga kerja dengan jumlah dari dalam satu
tahun di mana tenaga kerja bekerja produktif (Gittinger et al., 1993).
4. Lahan
Harga
sosial dari lahan diperhitungkan dari biaya pengorbanan produksi (production
foregone) yaitu bila lahan tidak digunakan untuk tanaman utama, tetapi
digunakan untuk tanaman komoditas alternatife lain yang potensial, atau untuk
harga lahan yang tidak menghasilkan, maka dapat berupa harga sewa dari lahan
tersebut.
5. Subsidi
Di
dalam analisis privat/finasial, subsidi (pengurangan pajak, pembatasan pajak
impor terhadap bahan baku, dapat pula berupa sarana lainnya yang dapat
dimanfaatkan dalam kegiatan usaha yang bersangkutan) akan mengurangi biaya
proyek sehingga dapat menambah benefit, sedangkan pada analisis sosial/ekonomi
subsidi tidak dihitung sebagai salah satu penyebab bertambahnya keuntungan oleh
karena itu tidak dihitung.
6. Bunga
modal
Di
dalam analisis ekonomi, harga sosial/bayangan bunga modal adalah tingkat bunga
tertentu atau tingkat pengembalian riil atas proyek. Tingkat bunga modal ini
diperlukan dalam mengetahui biaya tunai yang dikeluarkan dalam respon produksi.
Harga bayangan meliputi :
- Harga
bayangan hasil produksi atau output
Harga
sosial didekati dengan harga batas (border price) yaitu CIF (Cost Insurance
Freight).
- Harga
bayangan tanah
Menurut
Gittinger (1986), ada 3 macam penilaian harga bayangan faktor produksi tanah
yaitu :
a.
Menilai faktor produksi tanah sesuai dengan harga beli,
b. Menilai faktor produksi tanah
sesuai dengan perkiraan nilai netto biaya
produksi yang hilang/diluangkan (opportunity cost)
c. Menilai faktor produksi tanah
sesuai dengan nilai sewanya.
- Harga
bayangan tenaga kerja
Dalam
menentukan harga sosial tenaga kerja, maka perlu dibedakan antara tenaga kerja
terdidik atau terlatih dengan tenaga kerja tidak terdidik, sebagai asumsi pasar
dalam keadan bersaing sempurna tingakt upah dan mencerminkan produktivitas
marginalnya.
- Harga
bayangan nilai tukar
Dapat
ditentukan dengan menggunakan harga atau nilai valas yang ditentukan oleh
lembaga pemerintahan yang berwenag. Cara lain untuk menghitung harga sosial
nilai tukar asing adalah dengan mencari faktor konversi terhadap nilai tukar
resmi.

Dimana:
CFt:Standart Conversion faltor tahun
ke-t
Mt:Nilai impor pada tahun ke-t
Vt:Nilai ekspor tahun ke-t
Tmt:Besarnya pajak impor tahun t
Txt:Besarnya nilai ekspor tahun t
Menurut
Djamin (2003), Soetriono (2006) perbedaan antara keduanya adalah:
1. Harga
Pada analisis finansial harga yang digunakan adalah harga pasar (market price), sedangkan pada analisis ekonomi untuk mencari tingkat profitabilitas ekonomi akan digunakan harga bayangan. Menurut Suad Husnan dan Suwarsono (2000), beberapa cara penggunaan harga bayangan antara lain sebagai berikut:
(a) Harga input output diperdagangkan
Harga bayangan yang digunakan untuk input output diperdagangkan adalah harga internasional atau border price yang dinyatakan dalam satuan moneter setempat pada kurs pasar. Menurut Djamin (2003), border price yang relevan untuk input dan output impor adalah harga impor CIF lepas dari pelabuhan (dikurangi segala jenis bea masuk, pajak impor, dan lain sebagainya), sedangkan pada input output yang merupakan barang ekspor maka border price yang relevan digunakan adalah harga FOB pada titik masuk pelabuhan ekspor.
(b) Harga input tidak diperdagangkan
Harga bayangan dari input adalah consumer willingness to pay atau kesediaan konsumen untuk membayar dalam hal ini adalah kesediaan pihak yang berkepentingan dalam proyek untuk membayar.
(c) Biaya tenaga kerja
Harga bayangan untuk biaya tenaga kerja adalah berapa sektor lain bersedia membayar untuk tenaga kerja tersebut apabila usahatani menarik tenaga kerja dari sektor lain. Kalau proyek tersebut menciptakan tenaga kerja, maka harga bayangan tenaga kerja jauh lebih rendah dibandingkan dengan upah yang dibayarkan perusahaan kepada mereka.
(d) Lahan
Harga bayangan modal untuk lahan diperhitungkan dari biaya pengorbanan produksi (production foregone) yaitu hasil produksi dari tanah bila tidak digunakan untuk proyek, untuk tanah yang tidak menghasilkan maka harga bayangan dapat berupa harga sewa dari tanah tersebut.
(e) Nilai tukar valuta asing
Harga bayangan untuk nilai valuta asing adalah nilai resmi yang ditentukan oleh lembaga pemerintah yang berwenang dikali dengan faktor konfersi.
2)Pajak
Pembayaran pajak dalam analisis finansial akan dikurangkan pada manfaat proyek atau dianggap sebagai biaya. Sedangkan pada analisis ekonomi pembayaran pajak tidak dikurangkan dalam perhitungan benefit proyek yang diserahkan pada pemerintah untuk kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan, dan oleh karena itu dianggap sebagai biaya.
3)Subsidi
Didalam analisis finansial, subsidi (pengurangan pajak, pembatasan pajak impor terhadap bahan baku, dapat pula berupa sarana-sarana lainnya yang dapat dimanfaatkan proyek yang bersangkutan) akan mengurangi biaya proyek, jadi menambah benefit proyek, sedangkan pada analisis ekonomi subsidi tidak dihitung sebagai salah satu penyebab bertambahnya keuntungan oleh karena itu tidak dihitung.
1. Harga
Pada analisis finansial harga yang digunakan adalah harga pasar (market price), sedangkan pada analisis ekonomi untuk mencari tingkat profitabilitas ekonomi akan digunakan harga bayangan. Menurut Suad Husnan dan Suwarsono (2000), beberapa cara penggunaan harga bayangan antara lain sebagai berikut:
(a) Harga input output diperdagangkan
Harga bayangan yang digunakan untuk input output diperdagangkan adalah harga internasional atau border price yang dinyatakan dalam satuan moneter setempat pada kurs pasar. Menurut Djamin (2003), border price yang relevan untuk input dan output impor adalah harga impor CIF lepas dari pelabuhan (dikurangi segala jenis bea masuk, pajak impor, dan lain sebagainya), sedangkan pada input output yang merupakan barang ekspor maka border price yang relevan digunakan adalah harga FOB pada titik masuk pelabuhan ekspor.
(b) Harga input tidak diperdagangkan
Harga bayangan dari input adalah consumer willingness to pay atau kesediaan konsumen untuk membayar dalam hal ini adalah kesediaan pihak yang berkepentingan dalam proyek untuk membayar.
(c) Biaya tenaga kerja
Harga bayangan untuk biaya tenaga kerja adalah berapa sektor lain bersedia membayar untuk tenaga kerja tersebut apabila usahatani menarik tenaga kerja dari sektor lain. Kalau proyek tersebut menciptakan tenaga kerja, maka harga bayangan tenaga kerja jauh lebih rendah dibandingkan dengan upah yang dibayarkan perusahaan kepada mereka.
(d) Lahan
Harga bayangan modal untuk lahan diperhitungkan dari biaya pengorbanan produksi (production foregone) yaitu hasil produksi dari tanah bila tidak digunakan untuk proyek, untuk tanah yang tidak menghasilkan maka harga bayangan dapat berupa harga sewa dari tanah tersebut.
(e) Nilai tukar valuta asing
Harga bayangan untuk nilai valuta asing adalah nilai resmi yang ditentukan oleh lembaga pemerintah yang berwenang dikali dengan faktor konfersi.
2)Pajak
Pembayaran pajak dalam analisis finansial akan dikurangkan pada manfaat proyek atau dianggap sebagai biaya. Sedangkan pada analisis ekonomi pembayaran pajak tidak dikurangkan dalam perhitungan benefit proyek yang diserahkan pada pemerintah untuk kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan, dan oleh karena itu dianggap sebagai biaya.
3)Subsidi
Didalam analisis finansial, subsidi (pengurangan pajak, pembatasan pajak impor terhadap bahan baku, dapat pula berupa sarana-sarana lainnya yang dapat dimanfaatkan proyek yang bersangkutan) akan mengurangi biaya proyek, jadi menambah benefit proyek, sedangkan pada analisis ekonomi subsidi tidak dihitung sebagai salah satu penyebab bertambahnya keuntungan oleh karena itu tidak dihitung.
2.3 Penyebab Terjadinya Shadow Price
( Harga Bayangan)
Penyebab Terjadinya Harga Bayangan :
1.
Perubahan-perubahan di dalam perekonomian yang terlalu cepat, sehingga
mekanisme pasar tidak sempat mengikutinya. Dengan adanya keadaan yang demikian
mengakibatkan harga tidak seimbang (disequilibrium)
yang terjadi tidak
mencerminkan biaya atau hasil yang sesungguhnya.
- Proyek-proyek yang terlalu besar dan tidak
kelihatan (invisible), menyebabkan perubahan di dalam harga pasar,
baik untuk harga inputs maupun harga outputs,
sehingga
tidak dapat diperoleh suatu harga pasar yang dapat dipakai untuk mengukur
nilainya.
- Unsur-unsur monopolistis di dalam pasar, adanya
pajak dan subsidi, pada akhirnya menyebabkan harga pasar menyimpang dari
ukuran yang sebenarnya, baik dalam hal biaya maupun hasil sosial.
- Berbagai macam inputs
(biaya)
dan outputs (keuntungan), sehingga dengan adanya
sebab-sebab teknis, administratif ataupun: sosial, maka menyebabkan tidak
dapatnya dijual atau dibayar/ dibeli dengan cara yang biasa. Efek-efek
ekstern semacam ini memerlukan penilaian menurut harga bayangan.
2.4 Shadow Price Untuk Input dan Output Tradable
Produk (barang
atau jasa) dapat dikatakan tredeable
apabila memenuhi salah satu dari hal berikut :
1. Produk dalam
negeri cukup efisien, sehingga tanpa distorsi pasar, dengan harapan FOB yang
lebih tinggi dari biaya produksinya memeberikan rangsangan untuk mengekspor.
harga internasional (border price) dinyatakan dalam satuan moneter
setempat pada kurs pasar.
2. Perbandingan
biaya produksi dalam negeri dengan harga CIF (harga impornya) sedemikian rupa
sehingga menimbulkan rupa sehingga menimbulkan permintaan akan impor
barang/jasa tersebut.
Harga FOB dan
CIF merupakan border price dimana FOB adalh paritas ekpor dan CIF adalah
paritas impor.
Kebijakan pada input tradable
Kebijakan
pada input tradable dapat berupa kebijakan subsidi atau pajak kebijakan
hambatan perdagangan. Pengaruh subsidi dan pajak pada input tradable dapat
ditunjukan pada Gambar 5 (a) menunjukkan efek pajak terhadap input tradabel yang
digunakan. Dengan adanya pajak menyebabkan biaya produksi meningkat sehingga
pada tingkat harga output yang sama, output domestik turun dari Q1 ke Q2 dan
kurva supply bergeser ke atas. Efisiensi ekonomi yang hilang adalah ABC,
merupakan perbedaan antara nilai output yang hilang Q1CAQ2
dengan biaya produksi dari output Q2BCQ1.
2.1 Shadow Price Untuk Input
dan Output Non Tradable
Produk (barang
atau jasa) dikatakan sebagai tidak diperdagangkan (non-treaable)
apabila:
1. permintaan
dalam negeri dapat dipenuhi oleh produksi domestik pada harga dibawah nilai
CIF, atau dengan kata lain impornya (harga CIF) lebih besar daripada biaya
produksi domestik sehingga tidak menguntungkan bila diimpor. misalnya, harga
impor dari tiang listrik beton sebesar $1200,- sedangkan produsen di Indonesia
dapat menawarkan pada harga $900.- maka tidak akan ada impor.
2. harga ekspor
FOB terlalu rendah, berada dibawah biaya produksi domestik, singga tidak dapat
merangsang ekspor. misalkan, harga tiang listrik beton Singapura sebesar $1400
tapi biaya transportasinya sebesar $600, sehingga eksportir Indonesia hanya
menerima $800 (lebih kecil dari biaya produksi), maka tidak terjadi ekspor.
Kebijakan
Input Non Tradable
0 komentar